Peluang Tipis Mobil Listrik Nasional (MOLINAS) di Atas Kemenangan 7 Tim Indonesia...

Peluang Tipis Mobil Listrik Nasional (MOLINAS) di Atas Kemenangan 7 Tim Indonesia pada Ajang SEM Asia 2016

1443
0
BERBAGI

Berita gembira datang dari arena Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2016 di Rizal Park, Manila, Filipina. Ajang kompetisi yang diikuti 117 tim mahasiswa dari 17 negara di Asia, Timur Tengah, dan Australia yang digelar 3-6 Maret 2016 ini mendapuk tujuh tim mobil buatan mahasiswa Indonesia untuk meraih penghargaan. Ketujuh tim mahasiswa Indonesia itu berjuang di dua kategori bergengsi yakni Prototype dan UrbanConcept yang masing-masing memakai bahan bakar bensin, listrik murni, diesel, serta bahan bakar alternatif.

Sebagai catatan yang lebih membanggakan, beberapa dari ketujuh tim mahasiswa Indonesia tersebut juga berhasil mencatat rekor jarak tempuh baru. Berikut urutan posisi SEM Asia 2016:

1. Kategori UrbanConcept, murni energi listrik:
Peringkat 1: DLSU Eco Car dari De La Salle University Philippines, 78 km/kWh
Peringkat 2: Tim Bumi Siliwangi 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia, 78 km/kWh
Peringkat 3: NTU Singapore (3d Printed) dari Nanyang Technological University, 77 km/kWh

2. Kategori Prototype, bahan bakar bensin:
Peringkat 1: Tim Nakoela dari Universitas Indonesia, 792 km/liter
Peringkat 2: Aguila dari Mapua Institute of Technology, 335 km/liter
Peringkat 3: HaUI Auto dari Hanoi University of Industry, 326 km/liter

3. Kategori UrbanConcept, bahan bakar bensin:
Peringkat 1: Tim Sadewa dari UI, 275 km/liter
Peringkat 2: DLSU Eco Car dari De La Salle University Philippines, 159 km/liter
Peringkat 3: CKD Min10 dari Ho Chi Minh City University of Technology and Education Vietnam, 109 km/liter

4. Kategori UrbanConcept, bahan bakar diesel:
Peringkat 1: Tim ITS 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), 250 km/liter
Peringkat 2: Tim Bengawan 2 dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), 139 km/liter

5. Kategori UrbanConcept, bahan bakar alternatif (ethanol):
Peringkat 1: LH-Gold Energy dari Lac Hong university Vietnam, 186 km/liter
Peringkat 2: Cikal Ethanol dari Institut Teknologi Bandung (ITB), 184 km/liter
Peringkat 3: Horas Mesin dari Universitas Sumatera Utara, 123 km/liter.

Peliknya Masa Depan Mobil Listrik Nasional di Indonesia

Tampaknya berita menggembirakan dari ajang bergengsi di Filipina tersebut belum mampu menepis peluang mobil listrik nasional di Indonesia. Geliat mobil listrik di dunia mungkin sudah memanas, Indonesia bahkan sering disebut sebagai salah satu negara Asia yang getol ingin membangun industri mobil listrik. Tapi, apakah hal tersebut akan benar-benar terjadi?

Mobil Listrik Nasional SELO
Mobil Selo (Foto: Metro)

Tampaknya Indonesia harus menunggu lebih lama lagi sampai tercipta sebuah kondisi yang ramah terhadap industri mobil listrik. Mobil berbahan bakar minyak akan sulit tergeserkan, karena mobil konvensional memiliki keunggulan yang sulit digantikan oleh mobil listrik. Mobil konvensional memiliki kelebihan dalam hal tenaga, jarak tempuh serta biaya.

Sementara itu ketersediaan jaringan untuk memeriksa serta menyervis mobil listrik sangatlah berbeda dibanding dengan mobil berbahan bakar bensin. Elemen-elemen pendukung tersebut sangatlah penting dalam memajukan industri mobil listrik di Indonesia termasuk dukungan pemerintah yang kuat, terutama dalam hal subsidi.

Mobil Listrik Tucuxi
Mobil Listrik Tucuxi (Foto: Merdeka)

Berbicara mengenai dukungan pemerintah, Anda tentunya masih ingat bagaimana nasib beberapa mobil listrik hasil ide anak-anak muda Indonesia yang digadang-gadang akan menjadi Mobil Nasional (baca: Selo dan Tucuxi). Akankah para pemenang SEM Asia 2016 ini nantinya bernasib sama dengan yang sudah sudah? Tuliskan komentar Anda mengenai hal ini di kolom komentar.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY