Mengenal Standar Emisi EURO dan Penerapannya di Indonesia

Mengenal Standar Emisi EURO dan Penerapannya di Indonesia

9444
0
BERBAGI
Dengan adanya standar emisi baru, maka diharapkan udara di perkotaan bisa lebih bersih. (Foto: Huffington post)

Pastinya kita sering melihat di badan bis atau truk yang tertempel stiker berlabel “EURO” yang kadang banyak dari kita belum mengerti artinya. Istilah EURO yang dimaksudkan dalam stiker tersebut adalah European Emission Standards yang merupakan standar emisi kendaraan bermotor di Eropa yang kemudian diadopsi juga oleh beberapa negara lain di dunia. Banyak pabrikan otomotif yang memproduksi mesin dengan emisi gas buang seperti nitrogen oksida, hidrokarbon, dan karbon monoksida yang ramah lingkungan di era global warming ini. Standar EURO itulah yang kemudian menjadi patokan bagi perusahaan otomotif dalam memproduksi mesin mobil ramah lingkungan mereka.

Beberapa badan manajemen lingkungan mengeluarkan dua jenis standar lingkungan yaitu ESC (European Steady Cycle) atau dikenal dengan EURO dan EPA (Environmental Protecton Agency) Standard. Standar EPA dianut oleh industri di Amerika sementara pabrik otomotif lebih banyak menganut standar EURO. Dimulai sejak 1993, standar EURO diterapkan dengan beberapa ketentuan serta berdasarkan klasifikasi kendaraan. EURO sendiri memberi syarat bahwa semua kendaraan yang baru diproduksi harus mempunyai kadar gas buang yang berada dibawah ambang batas tertentu.

Pengukuran Standar Emisi Gas Buang

Hanya dengan mengandalkan kemampuan indra pengelihatan dan perasa, selama ini kita mengukur tingkat polusi sebuah kendaraan. Asap hitam yang mengepul dari sebuah bus atau truk sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kendaraan tersebut melebihi standar emisi gas buang. Sementara penghitungan kadar emisi gas buang tersebut tidak bisa dilihat secara visual semisal menghitung berapa emisi CO (Carbon Monoxide), emisi HC (Hydrocarbon) atau emisi CO2 (Carbon Dioxide) dari sebuah kendaraan yang memenuhi kriteria standar EURO tertentu. Tentunya hal tesebut memerlukan alat khusus, nah peraturan EURO mencakup hal tersebut.

Polusi Kendaraan
Polusi Kendaraan (Foto: Higienis)

Standar emisi gas buang EURO selalu direvisi setiap empat atau lima tahun sekali dengan ketentuan yang semakin lama semakin ketat. Pada standar EURO 1 yang dikeluarkan mulai 1992-1995, mengatur bahwa emisi CO dari kendaraan yang beroperasi di jalanan adalah maksimal 4,9 sementara emisi HC 9,0 dan NOx pada 1,23. Sementara pada EURO 2 yang dimulai sejak 1995-1999, emisi CO maksimal 4,0 untuk emisi HC pada 7,0 dan NOx di 1,1 yang kemudian dibuat lebih ketat lagi dengan penetapan EURO 3 mulai 1999-2005 yang mengatur emisi CO menjadi maksimum 2,1 sementara emisi HC pada 5,0 dan NOx pada angka 0,66. Standar EURO 4 yang ditetapkan pada 2005-2008 mengijinkan emisi NOx pada angka 0,46, emisi HC pada 3,5 dan emisi CO di angka 1,5. Sementara EURO 5 sudah mulai dilaksanakan sejak 2008-2012 mengisyaratkan standar emisi HC pada batas 2,0, emisi CO pada 1,5 dan emisi NOx pada angka 0,46.

Tabel Emisi EURO
Tabel Standar Emisi EURO (Foto: Hino Catalog)

Standar EURO di Indonesia

Standar emisi gas buang di Eropa kini sudah berada ke EURO 6 sementara di Indonesia sendiri kebanyakan masih memakai standar EURO 2 yang diberlakukan sejak 2007. Standar EURO 3 yang sudah diterapkan Indonesia sejak 2013 bagi kendaraan bermotor roda dua belum efektif berjalan tetapi sudah muncul wacana untuk menaikkan standar emisi menjadi EURO 4. Untuk menekan emisi, selama ini kita memakai catalytic converter sementara belum tersedianya kualitas bahan bakar yang sesuai standar membuat susah untuk meninggalkan standar EURO 2.

EURO 4
EURO 4 (Foto: Vestnikkavkaza)

Di lain pihak, jauhnya jarak standar emisi yang berlaku antara di Indonesia dan Eropa akan memberikan dampak yang tidak menguntungkan pada penjualan mobil produksi Eropa yang didatangkan secara utuh atau completely build up (CBU). Bagi produsen kendaraan dari Eropa, salah satu cara untuk menyiasati ketimpangan standar emisi dengan di Indonesia adalah dengan men-downgrade spesifikasi mesin yang ada supaya bisa disesuaikan dengan kualitas bahan bakar yang tersedia disini. Jika nantinya standar emisi di Eropa naik menjadi EURO 7 maka ini akan menjadi masalah karena proses downgrade produk dari Eropa mempunyai batasan yang membuat mereka bisa berhenti untuk melakukan ekspor ke pasar Indonesia.

Deretan Mobil Buatan Eropa
Deretan Mobil Buatan Eropa (Foto: Car Magazine)

Tentunya hal ini akan mengakibatkan berkurangnya mobil-mobil seri terbaru dari pabrikan Eropa yang bisa masuk ke Indonesia. Nah, sebagai pecinta otomotif sudah siapkah anda untuk menghadapi masalah ini?

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY