Terbongkar, Inikah Alasan Mitsubishi Lakukan Kecurangan Uji BBM Sejak 1991?

Terbongkar, Inikah Alasan Mitsubishi Lakukan Kecurangan Uji BBM Sejak 1991?

1500
0
BERBAGI
Tetsuro Aikawa, President and Chief Operating Officer MMC saat meminta maaf di hadapan publik (Foto: carmagazines)

Skandal kecurangan hasil uji konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang menimpa Mitsubishi dengan melibatkan empat model mobil dengan total 625 ribu unit mobil beberapa waktu lalu, kini mencapai titik temu baru. Sebuah temuan yang mengejutkan dan tak bisa dianggap sepele, karena kecurangan Mitsubishi telah berlangsung selama 25 tahun.

Meski baru ketahuan pada tahun 2016, Mitsubishi ternyata telah melakukan kecurangan dalam pelaporan hasil data konsumsi BBM sejak tahun 1991. Menurut hasil investigasi, data konsumsi bahan bakar rilisan Mitsubishi tidak sesuai dengan standar tes dari badan Land & Transport Authority Jepang.

Selisih Hasil Uji BBM Mitsubishi Beda dengan Nissan

Seperti yang sudah kami beritakan sebelumnya, empat model mobil yang terbukti memiliki hasil uji konsumsi BBM meragukan adalah Mitsubishi Ek Wagon dan Mitsubishi Ek Space, serta Nissan Dayz dan Nissan Dayz Roox yang diproduksi Mitsubishi untuk Nissan. Awal mula terbongkarnya penipuan ini saat Nissan melakukan pengujian mandiri untuk kedua mobilnya dan mendapati hasil yang mereka peroleh berbeda dengan hasil uji yang dilakukan Mitsubishi.

Mobil produksi Mitsubishi yang terkena skandal (Foto: Japantoday)
Mobil produksi Mitsubishi yang terkena skandal (Foto: Japantoday)

Dalam pengujian Mitsubishi, mobil produksinya tersebut tercatat memiliki angka konsumsi BBM sebesar 29,2 kilometer per liter. Sedangkan dari hasil uji yang dilakukan Nissan, ternyata diperoleh angka sebesar 26,4 kilometer per liter. Ini artinya, terdapat selisih angka 2,8 kilometer per liter dari hasil yang dilaporkan ke badan Land & Transport Authority Jepang.

Akar Permasalahan: Persaingan Mobil Jenis Kei Car?

Mungkin bagi beberapa orang, apalah arti selisih 2,8 kilometer per liter? Mengapa sampai bisa menggegerkan jagad otomotif? Jangan salah. Penipuan tetaplah penipuan sekecil apapun kerugian yang ditimbulkan, apalagi yang dilakukan oleh Mitsubishi ini menyangkut dengan tingkat efisiensi BBM. Kebetulan, empat model mobil produksi Mitsubishi yang bermasalah adalah mobil berjenis Kei Car, atau mobil perkotaan dengan ukuran kecil dan kapasitas mesin tak lebih dari 660 cc. Apakah Kei Car yang menjadi akar masalah ini?

Jepang menjadi negara dengan populasi Kei Car terbesar (Foto: thetruthaboutcars)
Kei Car dianggap paling cocok untuk kawasan perkotaan yang padat (Foto: thetruthaboutcars)

Bagi negara seperti Jepang yang kawasan perkotaannya semakin padat, mobil jenis ini adalah solusi yang cukup masuk akal untuk pilihan kendaraan pribadi. Selain itu, Pemerintah Jepang juga memberikan keringanan pajak bagi para pemilik mobil jenis Kei Car sehingga harganya bisa ditekan hingga di bawah USD 10.000 atau setara Rp 132 juta. Atas dasar itulah mobil model ini banyak diminati di Jepang dan menyumbang 40% angka penjualan mobil baru di negara itu.

Jepang masih menjadi negara dengan populasi Kei Car terbesar di dunia (Foto: fiatgroupworlds)
Jepang masih menjadi negara dengan populasi Kei Car terbesar di dunia (Foto: fiatgroupworlds)

Menurut Koichi Hatamura, mantan engineer Mazda yang kini menjalankan firma teknologi independen Hatamura Engine Research Office, dirinya tak heran jika Mitsubishi (atau pabrikan manapun yang turut bermain di segmen Kei Car) melakukan kecurangan uji efisiensi bahan bakar. “Kompetisi pada Kei Car adalah tentang konsumsi bahan bakar. Kompetisinya sangat keras, Mitsubishi tak memiliki teknologi untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar, pun tak punya uang. Orang-orang di bagian pengembangan diberikan tugas mustahil –memotong biaya dan meningkatkan jarak tempuh kendaraan.”

Contoh Kei Car dari Suzuki (foto: Mivecblog)
Contoh Kei Car dari Suzuki (foto: Mivecblog)

Maka wajar jika Mitsubishi yang boleh dibilang sedikit tertinggal dalam pengembangan segmen ini (jika dibandingkan dengan kompetitor lain macam Daihatsu atau Suzuki), akhirnya melakukan kecurangan uji konsumsi BBM agar mendapatkan angka yang lebih baik dari para pesaingnya. Apalagi, tingkat keiritan BBM adalah salah satu hal yang dicari oleh para konsumen.

Bagaimana Kecurangan Ini Dilakukan?

Bagaimana sebenarnya standar pengujian BBM yang ditetapkan oleh Pemerintah Jepang? Mengapa bisa kecolongan seperti ini? Pemerintah Jepang tidak menunjuk suatu badan atau instansi tertentu untuk menjadi pengawas dalam uji konsumsi BBM, melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada pabrikan. Ini berarti, besar kemungkinan pabrikan selain Mitsubishi juga dapat melakukan kecurangan.

Pada kasus yang dialami oleh Mitsubishi, pihaknya mengakui telah memodifikasi beban kendaraan saat tes sehingga mobil terlihat lebih efisien. Mitsubishi menggunakan angka running resistance (kombinasi resistan yang disebabkan oleh ban dan udara saat mobil bergerak) berbeda dari yang diharuskan lembaga uji mobil Jepang sehingga jangkauan kilometer per liternya menjadi lebih jauh dari yang seharusnya.

Kecurangan VW berdampak besar pada dunia otomotif
Kecurangan VW berdampak besar pada dunia otomotif (Foto: Gettyimages)

Boleh dibilang, apa yang dilakukan oleh Mitsubishi masih jauh lebih sederhana ketimbang apa yang dilakukan oleh Volkswagen (VW) saat tersandung Dieselgate tahun lalu. Saat itu, VW terbukti menggunakan software khusus sehingga peforma dieselnya berubah dan menghasilkan emisi yang memenuhi standar.

Dampak Kasus Ini pada Masa Depan Mitsubishi

Seperti halnya yang terjadi pada VW beberapa waktu lalu, nilai saham Mitsubishi langsung turun 15 persen setelah kasus ini mencuat. Bahkan menurut Mitsubishi, penurunan saham ini adalah yang terbesar sejak 12 tahun terakhir.

Saham MMC langsung anjol 15% (Foto: Wall Street Journal)
Saham MMC langsung anjol 15% (Foto: Wall Street Journal)

Pemerintah Jepang ikut turun tangan dan berencana untuk memberi sanksi denda kepada Mitsubishi. Menurut juru bicara Pemerintah Jepang, Yoshihide Suga, penipuan ini merupakan isu yang sangat serius dan mencederai kepercayaan konsumen sehingga tidak akan ditoleransi.

Yoshihide Suuga (Foto: Voanews)
Yoshihide Suga, juru bicara Pemerintah Jepang (Foto: Voanews)

Skandal ini diperkirakan dapat membuat Mitsubishi harus mengeluarkan dana lebih dari 50 miliar Yen atau setara Rp 5,95 triliun untuk pembayaran kepada konsumen, biaya penggantian suku cadang, dan kompensasi kepada Nissan.

PT Kramayudha Tiga Berlian Motors (Foto: vinastarmotors)
PT Kramayudha Tiga Berlian Motors meyakini tidak ada masalah serupa di Indonesia (Foto: vinastarmotors)

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Berhubung PT Kramayudha Tiga Berlian Motor (KTB) selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Mitsubishi di Indonesia tidak mendatangkan produk Kei Car, maka pihaknya menyatakan bahwa skandal tersebut tidak berdampak pada penjualan Mitsubishi di Indonesia, setidaknya sampai saat ini. Selain itu, KTB juga masih menunggu hasil investigasi yang sedang dilakukan tim khusus yang dibentuk oleh Mitsubishi Motors Corporation (MMC).

Tapi, mengingat aksi kecurangan ini sudah dilakukan sejak 1991, maka bukan tak mungkin produk model lain juga terkena kasus ini bukan? Kita tunggu saja perkembangan kasus ini.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY