5 Mobil yang Mengalami Kegagalan Pemasaran di Indonesia

1612
0
BERBAGI

Perkembangan dunia otomotif yang cukup pesat di Indonesia saat ini ternyata tidak dibarengi dengan hasil penjualan mobil yang memuaskan. Para pelaku industri otomotif saling belomba-lomba untuk bisa memenangkan pasar dan banyak cara dilakukan untuk meningkatkan efektifitas promosi dan penjualan. Tetapi semakin banyaknya pilihan ternyata bisa membatasi wilayah pemasaran. Banyak mobil yang sukses, tetapi banyak juga yang gagal dalam pemasaran. Berikut ini kami rangkum 5 mobil yang mengalami kegagalan pemasaran di indonesia.

Mazda VX-1

Mobil yang mulai diproduksi pada tahun 2013 ini boleh dibilang mengalami kegagalan. Meskipun Mazda VX1 merupakan rebadge dari Suzuki Ertiga, namun penjualannya terhitung buruk, tidak mencapai 1.000 unit per tahun dan kalah jauh jika dibandingkan dengan Suzuki Ertiga. Kurangnya promosi dan harganya yang lebih mahal dari Suzuki Ertiga disinyalir menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kegagalan penjualan. Meski begitu, Mazda tidak menyerah dan tetap meluncurkan VX1 facelift di awal 2016 ini.

Toyota NAV1

Toyota NAV1 juga menjadi salah satu mobil yang mengalami kegagalan penjualan di Indonesia. Mobil ini mempunyai segmen pasar kelas yang nanggung, tidak untuk kelas menengah kebawah, tetapi juga kalah kelas jika dibandingkan Alphard. Sepertinya hal inilah penyebab utama kegagalan penjualan NAV1 di Indonesia. Toyota hanya bisa menjual sekitar 535 unit setahun. Lalu, apakah ada kemungkinan keluarnya Sienta adalah untuk menggantikan NAV1?

Semua Model Infiniti

Merek mobil kelas premium milik Nissan ini mengalami nasib yang menyedihkan di Indonesia. Selama tahun 2014 kemarin saja penjualan Infiniti hanya menembus angka 8 unit untuk semua tipe. Sangat berbeda dengan rekan sekelasnya seperti Lexus yang berhasil menjual 627 unit kendaraannya di tahun yang sama. Sebab utama dari kegagalan penjualan ini adalah karena kurangnya promosi, sehingga brand awareness dan brand image Infiniti di Indonesia tidak terbangun dengan baik.

Peugeot 107

Mobil ini sebenarnya adalah mobil murah di Eropa, tetapi ketika dibawa ke Indonesia harganya tentu saja akan kena tambahan pajak, biaya impor dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan banderol harga mobil naik dan menjadi mahal di Indonesia, apalagi jika dibandingkan dengan spesifikasinya yang biasa saja. Rasanya sulit bagi Peugeot Indonesia untuk mengulangi masa kejayaan Peugeot 206, karena selama tahun 2014 saja Peugeot 107 hanya berhasil terjual sebanyak 3 unit. Mengenaskan.

Nissan Murano

Sebenarnya mobil ini cukup good looking. Tapi apa daya, lagi-lagi masalah promosi yang menyebabkan kegagalan penjualan. Strategi penjualan yang dirasa tidak jelas juga menjadi salah satu pendukung kegagalan. Padahal jika diolah dengan baik mungkin Nissan Murano ini bisa masuk di segmen pasar Toyota Harrier atau Lexus RX. Nissan akhirnya memutuskan untuk men-diskontinyukan mobil ini pada tahun 2014, karena pada tahun 2013 di Indonesia hanya berhasil terjual 4 unit dan di tahun 2014 tidak ada unit yang terjual sama-sekali.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY