Surat Terbuka Untuk Pemda Bali yang Tengah Menggodok Perda Penghancuran Mobil Tua

Surat Terbuka Untuk Pemda Bali yang Tengah Menggodok Perda Penghancuran Mobil Tua

1496
0
BERBAGI

“Pembatasan usia kendaraan dan metode penghancuran mobil-mobil tua itu tertuang dalam Rancangan Perda Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Berdasar Ranperda tersebut, kendaraan pribadi di atas usia 25 tahun harus dikalengkan untuk kemudian dihancurkan menjadi potongan besi-besi tua”

Potongan berita yang saya baca di media online Tribun Bali (Kompas Gramedia Group) pagi ini benar-benar membuat hati saya gundah. Bagaimana tidak? Dari berita yang saya baca sekilas tadi, langsung tergambar di benak saya mobil-mobil tua yang akan langsung dikirim ke tempat pemusnahan mobil, dihancurkan dan dikirim dalam paket-paket besi tua untuk kemudian didaur ulang tanpa pandang bulu. Sebelum saya jabarkan lebih lanjut, kita samakan persepsi dahulu bahwa mobil tua yang saya bayangkan adalah mobil-mobil yang bernilai koleksi. Anda bisa bayangkan? Melihat dengan mata telanjang sebuah VW Karmann Ghia atau Chevrolet Impala, atau mobil-mobil tua legendaris yang lain, dihancurkan bersama mobil-mobil tua yang diklaim tidak layak pakai lainnya? Gila.

Definisi Tidak Layak Pakai dan Kaitannya dengan Mobil Bernilai Koleksi

Aturan yang sedang dibahas di DPRD Bali pada hari ini (Kamis, 26 Mei 2016) tentang pemusnahan mobil tua tersebut tentu saja membuat gusar para penggemar dan kolektor mobil tua. Dalih yang digunakan untuk membuat perda ini salah satunya adalah membatasi populasi kendaraan yang bisa menimbulkan kemacetan dan menciptakan iklim keselamatan berlalu lintas. Saya sendiri jadi kurang paham ketika alasan ini yang dipakai untuk membentuk perda itu. Memangnya ada berapa persenkah mobil tua yang aktif di jalanan setiap hari? Dan, apakah sekian persen itu yang menjadi faktor utama penyebab kemacetan?

jika peraturan itu diterapkan di seluruh Indonesia, maka ex-RI 1 ini juga harus siap dihancurkan (foto : sportku.com)
jika peraturan itu diterapkan di seluruh Indonesia, maka ex-RI 1 ini juga harus siap dihancurkan (foto : sportku.com)

Berdasarkan data yang saya kutip dari Tribun Bali mengenai jumlah kendaran di Bali, tercatat angka 3.505.984 yang terdiri dari kendaraan roda empat sebanyak 490.697 (14%) dan roda dua mencapai 3.015.287 (86%). Khusus untuk kendaraan berusia tua, didapat angka sejumlah 283.231 unit. Definisi mobil tua yang dijabarkan sementara ini oleh pemda Bali adalah yang diproduksi sebelum tahun 1991, atau sudah berusia 25 tahun keatas. Memang kisaran angka yang mencapai 200 ribuan ini terlihat banyak sekali. Namun betulkah kesemuanya aktif di jalanan?

Grafis pembatasan mobil tua di Tribun Bali (Foto: tribunnews bali)
Grafis pembatasan mobil tua di Tribun Bali (Foto: tribunnews bali)

Lalu jika kita bicara tentang faktor keselamatan, pasti erat hubungannya dengan kelayakan jalan sebuah kendaraan. Jika peraturan daerah tadi diterapkan kepada semua pemilik mobil tua tanpa pandang bulu, maka saya pribadi akan mengatakan itu salah. Bagaimana tidak? Seorang penggemar atau kolektor mobil tua tentu saja tidak akan secara sembarangan merawat mobilnya. Bagi para penggemar mobil tua, memiliki dan menggunakan mobil tua yang sehat adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Masalah keselamatan? Saya yakin para penggemar mobil tua tidak akan melalaikan masalah keselamatan. Mungkin benar jika dikatakan mobil tua tidak dibekali dengan sejumlah fitur penunjang keselamatan modern. Namun, bukankah ada segelintir mobil berusia muda yang juga kurang dalam hal fitur penunjang keselamatan namun mendapat ijin produksi?

saya tidak melihat bahwa mobil-mobil ini tidak layak pakai (foto : tribunnews)
saya tidak melihat bahwa mobil-mobil ini tidak layak pakai (foto : tribunnews)

Kita ambil contoh mobil baru dengan kategori LCGC (Low Cost Green Car). Apakah secara standar keamanan mobil jenis ini tergolong layak pakai? Walaupun menurut regulasi pemerintah dan pabrikan layak, tapi menurut saya kok tidak ya? Anda bisa bayangkan, mobil baru yang dijual dengan rentang harga hingga sekitar Rp 120 jutaan, berarti harga produksinya berapa? Dengan budget produksi yang sedemikian rendah, pabrikan bisa memproduksi mobil yang selayak apa? Punya airbag berjumlah 6? Pengereman dengan ABS+EBD+BA? Selain itu, bisa dilihat juga di jalanan, di kota besar manapun di Indonesia, mobil apa sih yang mendominasi? Kenapa jadi mobil tua yang disalahkan sebagai biang keladi utama penyebab kemacetan?

Regulasi yang Belum Siap Diterapkan

Aturan yang masih dalam tahap penggodokan ini keburu menuai debat pro dan kontra, baik dari masyarakat umum penggemar mobil tua dan juga dari pihak pemerintahan sendiri. Rencananya, mobil pribadi yang usianya diatas 25 tahun akan dihancurkan, dan angkutan umum yang berusia 10-15 tahun tidak akan diperpanjang perijinannya. Jika dengan tujuan untuk memperbaiki fasilitas transportasi umum, siapa sih yang tidak setuju? Saya yakin pasti semua orang setuju, tetapi jika tanpa pandang bulu semua mobil tua tiba-tiba dihancurkan, saya rasa pemerintah benar-benar harus mengkaji ulang tentang rencana peraturan daerah ini. Andaikan pembatasan ini akan benar-benar diterapkan, cukuplah untuk sekedar membatasi saja, tidak perlu menghancurkan. Karena bagi para penggemar mobil tua, mobil-mobil tua itu seperti makhluk hidup, mobil-mobil itu sudah dianggap seperti layaknya anggota keluarga sendiri.

angkot tua, sering bermaslah jangan dijadikan standar mobil tua (foto : rimanews.com)
angkot tua, sering bermasalah jangan dijadikan standar mobil tua (foto : rimanews.com)

Pemerintah harus benar-benar bisa membedakan, mana mobil yang tidak layak jalan dan mana mobil tua yang berstatus koleksi, klasifikasinya harus jelas. Di lain sisi, saya rasa pemerintah perlu untuk membangun pusat pengujian kelayakan jalan bagi mobil-mobil tua, tentu saja dengan standar yang dibedakan. Regulasi ini benar-benar harus dimatangkan sebelum diterapkan, jangan sampai Pemda Bali menerapkan peraturan yang setengah matang, yang tentu saja nantinya hanya akan menimbulkan konflik horizontal.

Meminjam Regulasi Negara Maju Sebagai Bekal Pembuatan Peraturan

Jika mengambil contoh dari negara-negara maju seperti Singapura, kebijakan pemerintah setempat terkait hal ini bisa diterapkan. Mobil yang berusia di atas 10 tahun akan dikenai pajak yang lebih besar dibandingkan mobil baru. Dengan demikian, pemilik mobil tua yang mobilnya tidak kolektibel akan memilih untuk menghancurkan saja mobilnya. Setidaknya masih ada opsi bagi para pemilik mobil tua untuk mempertahankan mobil tuanya yang kolektibel, karena seorang kolektor sejati akan tetap mempertahankan koleksinya tak peduli harus menebus harga semahal apapun.

Kebijakan penghancuran mobil tua tak bisa dipukul rata hanya bermodal angka tahun produksi (Foto: Speedhunters)

Kalaupun masih keberatan dengan opsi ini, masih ada opsi peraturan lain seperti yang berlaku di Amerika Serikat. Sebuah mobil tua di sana bisa dihargai hingga Rp 25 juta per ton untuk dihancurkan. Opsi ini tentu lebih menguntungkan bagi para pemilik mobil tua yang statusnya non-kolektibel. Secara tidak langsung akan terjadi proses seleksi, dimana para pemilik mobil tua yang status mobilnya masuk kategori ‘bobrok, payah, tidak bisa jalan dengan benar, dan sebagainya’ akan lebih memilih menghancurkan mobilnya. Sementara mereka yang mengkoleksi mobil tua berdasarkan kecintaan dan nilai historisnya akan tetap senang karena bisa merawat mobilnya tanpa terkena pajak lebih. Pada intinya, janganlah pemerintah menerapkan aturan pukul rata pada mobil tua. Kami, para pecinta mobil tua, akan sedih jika mobil tua kesayangan kami nasibnya berakhir tragis menjadi panci penggorengan seperti yang terjadi di Finlandia.

*Penulis adalah salah seorang penggemar dan penggiat mobil-mobil tua. Meski tua, bukan sembarang mobil tua ya!*

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY