Masalah Konsumsi BBM dan Manipulasi Datanya, Haruskah Kita Percaya pada Data Brosur?

Masalah Konsumsi BBM dan Manipulasi Datanya, Haruskah Kita Percaya pada Data Brosur?

1134
0
BERBAGI
(ilustrasi : clipartkid.com)

Beberapa saat belakangan ini kita sering mendengar ataupun membaca berita tentang skandal uji konsumsi BBM. Mulai dari Mitsubishi, Suzuki, hingga General Motors di Amerika. Ini semua tentang kesalahan pabrikan dalam melakukan uji konsumsi bahan bakar pada mobil produksinya. Hasil yang mereka peroleh dan klaim yang mereka cantumkan untuk kepentingan promosi tidak sesuai. Tentu saja ini sudah masuk ke dalam ranah penipuan, karena pabrikan sudah melakukan pemalsuan data untuk menarik konsumen.

Baru saja ini, Mitsubishi tidak diperbolehkan untuk menjual delapan model mobilnya terkait dengan pemalsuan data tersebut. General Motors juga harus menghentikan 60.000 kendaraan model crossover yang mereka miliki karena hasil pengujian konsumsi BBM nya melenceng. Tahun 2012 pun Hyundai pernah mengalami hal serupa sehingga Hyundai harus merevisi angka konsumsi BBM mobil mereka yang dijual di Amerika Serikat, dan memberikan kompensasi kepada konsumennya. Sebegitu pentingnya kah data perbandingan konsumsi BBM yang dicantumkan di dalam brosur? Saya pribadi merasa kurang memperhatikan hal tersebut. Apa karena kita terbiasa hidup di Indonesia? Negara yang pengguna kendaraannya kurang memperhatikan hal-hal kecil seperti itu.

Bagaimana Cara Menguji Konsumsi BBM Mobil?

Pabrikan melakukan pengujian komsumsi BBM ini di laboratorium tertutup dengan menggunakan alat bernama mesin dyno seperti yang biasa digunakan para penggemar otomotif untuk melakukan dynotest. Cara pengujiannya adalah, mobil diletakan diatas mesin dyno, kemudian roller diberi beban yang mensimulasikan hambatan angin, hambatan gulir ban, dan bobot mobil beserta pengendaranya. Mobil kemudian dijalankan diatas roller, seperti treadmill, dengan kecepatan, rentang waktu, dan jarak tertentu. Inilah yang mensimulasikan kendaraan sedang berkendara di jalanan kota atau jalan tol. Untuk mobil berbahan bakar fosil (diesel atau bensin), dipasangkan juga sensor di lubang knalpot, untuk menghitung seberapa banyak carbon yang dihasilkan. Besaran carbon inilah yang menjadi parameter pengukuran seberapa banyak bensin yang terbakar.

dyno test seperti treadmill (foto : youtube.com)
dyno test seperti treadmill (foto : youtube.com)

Setelah selesai pengujian dan didapatkan hasilnya, pabrikan lalu akan mengirimkannya kepada badan pemerintah, seperti EPA (Environmental Protection Agency) di Amerika contohnya. Meski badan tersebut melakukan uji ulang, namun tetap saja hasilnya hanya mendekati kondisi sesungguhnya, tidak benar-benar mutlak. Dengan hasil dari metode pengujian seperti ini, akhirnya banyak konsumen yang mengeluh mobil mereka lebih boros dari informasi yang diberikan, dan akhirnya muncul keluhan yang tidak jarang sampai dibawa ke pengadilan. Tetapi tidak jarang juga ada ‘orang dalam’ yang ‘nakal’ dan memalsukan datanya.

Masih Haruskah Kita Percaya?

Kesalahan-kesalahan seperti yang sudah dilakukan oleh pabrikan tersebut tentu akan membuat kita bertanya-tanya, apakah kita masih harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh pabrikan mobil soal konsumsi bahan bakar? Jawabannya adalah sebaiknya kita jangan terlalu percaya. Angka konsumsi bahan bakar yang tertera di brosur atau iklan mobil adalah angka yang didapat oleh pabrikan, dalam kondisi mobil yang optimal, dalam arti, pengujian dilakukan di lokasi yang tertutup, dengan sederet parameter yang mengiringinya. Jelas berbeda dengan kondisi lalu lintas nyata, konsumsi bahan bakarnya pasti lebih boros. Di dunia nyata, kondisi lalu lintas, cuaca, hingga bagaimana gaya berkendara menjadi faktor penentu irit tidaknya sebuah mobil atau motor.

kalau anda sudah senang dan cocok, apalagi sesuai dengan kebutuhan anda, untuk apa lagi mempermasalahkan konsumsi BBM (foto : mitsubishi-motors.com)
kalau anda sudah senang dan cocok, apalagi sesuai dengan kebutuhan anda, untuk apa lagi mempermasalahkan konsumsi BBM (foto : mitsubishi-motors.com)

Media-media otomotif di seluruh dunia mempunyai standar yang hampir sama tentang prosedur dan metode pengujian konsumsi BBM ini. Mobil diuji di jalan raya sesuai kondisi sesungguhnya, dan pengujian BBM menggunakan metode Full To Full, dimana BBM diisi hingga penuh, menempuh jarak atau waktu tertentu, dan kemudian diisi penuh kembali. Dari situ bisa dilihat berapa banyak BBM yang dikonsumsi. Mungkin, berita yang disajikan oleh media otomotif bisa dijadikan patokan, tetapi, hasil ini juga akan berbeda saat Anda yang berkendara. Karena kembali lagi pada gaya berkendara anda, cuaca, hingga keadaan lalu lintas yang anda lalui. Saya pribadi menyarankan, saat akan membeli mobil, anda tidak usah mempedulikan data konsumsi BBM yang ada di brosur. Kalau memang hati sudah klop, dan dana anda cukup, belilah, perkara konsumsi BBM urusan belakangan. Dengan begitu, anda tidak akan merasa tertipu. Toh kalau hati sudah sama-sama cocok, seboros apapun mobil anda, anda tetap akan merasa senang mengendarainya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY