Wah, Ford Motor Indonesia Diduga Mengakali Pajak Selama Beroperasi di Indonesia!

Wah, Ford Motor Indonesia Diduga Mengakali Pajak Selama Beroperasi di Indonesia!

459
0
BERBAGI
Kegiatan operasional Ford Motor Indonesia resmi digantikan RMA Group (Foto: dk8000)

Belum genap setahun sejak Ford Motor Indonesia (FMI) mengumumkan akan menghentikan kegiatan bisnisnya di Indonesia, kini muncul lagi sebuah kabar tak mengenakkan dari perusahaan asal Amerika Serikat itu.

FMI yang sudah menghentikan operasinya pada paruh kedua tahun ini diduga telah melakukan manipulasi spesifikasi kendaraan untuk mengakali tarif/biaya Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) untuk produk Everest.

Memanfaatkan Celah Peraturan

Dugaan ini muncul dari laporan Direktur Eksekutif Center for Indonesian Taxation Analysis (CITA), Yustinus Prastowo, di Jakarta, Selasa (13/9). Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa FMI diduga memanfaatkan celah untuk bisa menghindari peraturan atas besaran tarif PPnBM yang lebih mahal. Caranya, FMI memanipulasi spesifikasi barang (pada kasus ini adalah Everest) dan memodifikasi Everest sebelum dan sesudah impor.

Seperti inilah Ford Everest jika dalam format 10 penumpang (Foto: RMA Automotive)

Melihat Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 41 tahun 2013, Tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor Yang Dikenai Pajak Penjualan atas Barang Mewah, FMI terindikasi mengakali besaran tarif PPnBM dengan memanfaatkan celah peraturan yang tertuang dalam PP No 41 tahun 2013 Pasal 2 Ayat 2 yang berbunyi: “Kelompok Barang Kena Pajak yang tergolong mewah berupa kendaraan bermotor yang dikenai PPnBM dengan tarif sebesar 10%, adalah: Kendaraan bermotor untuk pengangkutan 10 orang sampai dengan 15 orang termasuk pengemudi, dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi (diesel atau semi diesel), untuk semua kapasitas isi silinder.”

Ford All New Everest di GIIAS 2015 (Foto: Ototaiment)
Ford All New Everest di GIIAS 2015 (Foto: Ototaiment)

Melihat spesifikasi Ford Everest yang beredar di Indonesia, maka seharusnya FMI dikenakan PPnBM besaran tarif 40%, karena mengacu pada Pasal 2 Ayat 5, Everest memiliki spesifikasi pengangkutan kurang dari 10 orang termasuk pengemudi, kendaraan selain sedan atau station wagon dengan motor bakar cetus api atau nyala kompresi, sistem 2 gardan penggerak (4×4), dan berkapasitas isi silinder lebih dari 1.500 cc sampai dengan 2.500 cc.

New Ford Everest di IIMS 2015 (Foto: Ototaiment)
New Ford Everest di IIMS 2015 (Foto: Ototaiment)

Celah inilah yang dimanfaatkan FMI dengan terlebih dulu mengubah spesifikasi dan memodifikasi Everest sebelum dan seduah impor. Secara kronologis, FMI mengubah spesifikasi mobil dari 7-bangku menjadi 10-bangku saat mengimpor dari Thailand, lalu diubah kembali menjadi 7-bangku saat akan dijual ke konsumen Indonesia. Tujuannya jelas, untuk menghindari PPnBM. Namun hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut karena baru berupa dugaan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY