Benarkah Indonesia Butuh LCGC?

631
0
BERBAGI

Beberapa waktu lalu pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah mengeluarkan peraturan baru mengenai jenis kendaraan yang diperbolehkan menjadi taksi online. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek, dijelaskan bahwa taksi online yang diperbolehkan Kir hanya mobil-mobil yang memiliki kapasitas silinder di atas 1.300 cc.

Melalui peraturan ini, secara tidak langsung pemerintah menyasar mobil di segmen LCGC (Low Cost Green Car) sebagai mobil yang dilarang digunakan sebagai taksi online, karena mobil jenis ini memiliki regulasi kapasitas silinder maksimal 1.200 cc.

Dianggap Tak Layak

Mengutip ucapan Kepala Unit Pengelola Pengujian Kendaraan Bermotor Pulogadung Dishubtrans DKI Jakarta, “Mobil LCGC dilarang digunakan sebagai taksi online untuk memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi penumpang. Selain itu, kapasitas mesin yang rendah di mobil LCGC dianggap akan mengurangi power kendaraan saat memakai AC dan berpenumpang empat orang, sehingga stabilitas kendaraan kurang baik pada saat kecepatan tinggi, apalagi bobot kendaraan juga terbilang ringan.”

Dari pernyataan pihak berwenang tadi, secara sederhana bisa kita simpulkan bahwa mobil LCGC dianggap kurang layak sebagai sarana transportasi publik. Masalahnya, jika digunakan jadi transportasi umum saja dilarang karena dinilai kurang memadai untuk kenyamanan dan keselamatan penumpangnya, lantas bagaimana jika digunakan sebagai mobil keluarga? Bukankah keselamatan dan kenyamanan keluarga adalah prioritas kita semua?

Low Cost Berarti Pemangkasan, Green Car Tidak Akan Pernah ‘Green’

Kami juga meyakini bahwa mobil dengan predikat low cost tidak akan pernah memiliki standar keamanan yang memuaskan, dan selama masih mengeluarkan sisa gas buang atau emisi, sebuah kendaraan tetap tidak akan bisa disebut ‘green’, kecuali kalau definisi green car hanya sebatas mempunyai konsumsi bahan bakar yang irit, maka lain ceritanya.

Lalu, kenapa kami bilang mobil yang low cost itu tingkat keamanannya kurang memuaskan? Ya karena mengejar biaya produksi yang rendah, maka pasti akan banyak materi yang diturunkan kualitasnya, entah mesin, body, sasis, interior, atau bahkan fitur-fitur keselamatannya. Dari sini seharusnya pemerintah lebih memikirkan keselamatan pengendara, daripada hanya mengejar kuantitas penjualan ataupun target-target lain, yang biasanya muluk-muluk, sebelum mengeluarkan kebijakan mengenai mobil LCGC.

Jika definisi sebuah mobil bisa dikatakan aman bagi penumpangnya adalah mobil yang memiliki fitur keselamatan A, B, C, dan D, kemudian bahan dasar pembuatan body dan sasisnya harus mengandung E, F, dan G juga minimal harus mengantongi bintang 4 saat pengujian keselamatan, ditambah biaya H+I+J dan lain lain akan menghasilkan harga jual standar misalkan Rp 250 juta, ya sudah, jual mobil itu seharga Rp 250 juta. Tidak perlu memangkas spesifikasi, bahan dasar produksi, hingga standar pengujian keselamatan hanya untuk mengejar nilai jual yang murah.

Masih Tergolong Kebutuhan Tersier

Mobil pribadi hingga saat ini masih tergolong kebutuhan tersier, artinya, tidak memiliki mobil pun hidup kita masih baik-baik saja. Rasanya terlalu berlebihan jika demi memiliki mobil, kita lalu mengabaikan faktor-faktor tertentu yang krusial.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY