Dianggap Beresiko Kecelakaan, Menhub Berencana Larang Bus Telolet

Dianggap Beresiko Kecelakaan, Menhub Berencana Larang Bus Telolet

881
0
BERBAGI
Menhub akan larang bus telolet, apakah ini pertanda berakhirnya fenomena Om Tolelot Om? (Foto: Youtube)

Fenomena bus dengan klakson ‘telolet’ yang tengah ramai diperbincangkan dengan frasa “Om Telolet Om” tak hanya viral di Indonesia, namun hingga ke mancanegara. Fenomena ini bermula dari ‘keisengan’ segerombolan anak di sebuah desa di Jepara yang berkumpul di pinggir jalan sambil berteriak “om, telolet om!” pada bus yang lewat dengan maksud meminta pengemudi bus membunyikan klakson yang bersuara unik.

Segerombolan anak yang nampaknya memang sudah bertekad untuk memburu suara klakson telolet tersebut akhirnya mengunggah video hasil ‘perburuannya’ ke berbagai media sosial dan kemudian viral ke berbagai daerah lain di Indonesia. Bagi beberapa orang, kegiatan yang terkesan tidak ada gunanya ternyata membawa kesenangan tersendiri. Namun siapa sangka, ada faktor keselamatan yang kadang diabaikan oleh para pemburu telolet.

Menhub Akan Melarang

Menteri Perhubungan Budi Sumadi baru-baru ini memberikan pernyataan akan menerbitkan edaran untuk melarang bus telolet. Menurutnya, para pemburu klakson telolet yang mayoritas anak-anak kerap tidak mengindahkan keselamatan berlalu-lintas. Ini tentunya bisa mengakibatkan kecelakaan.

Pertimbangan keselamatan jadi acuan bagi Menhub untuk mengkaji pelarangan bus telolet (Foto: merdeka)

Melalui larangan ini, setidaknya ada dua hal yang berpotensi dilarang: pelarangan pengemudi bus untuk membunyikan klakson telolet saat diminta para pemburu telolet, atau pelarangan untuk menggunakan klakson dengan modifikasi suara atau klakson telolet. Terkait hal ini, komunitas bismania menyayangkan jika hal kedua yang dilarang, karena menurut mereka klakson telolet masih dalam batas yang diizinkan oleh peraturan.

Aturan Desibel

Merujuk pada Peraturan Pemerintah nomor 55 tahun 2012 tentang Kendaraan, aturan tentang suara klakson pada Pasal 69 berbunyi ‘Suara klakson sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (2) huruf f paling rendah 83 desibel atau dB (A) dan paling tinggi 118 desibel atau dB (A)‘. Hal inilah yang membuat komunitas bismania merasa tak ada yang salah dari dipasangnya klakson telolet pada bus. Apalagi, menurut para bismania tren telolet justru jadi promosi gratis mengenai bus di Indonesia.

Menurut komunitas bismania, sejauh suara klakson masih dalam batas yang diizinkan oleh undang-undang, maka seharusnya tidak perlu dilarang (Foto: Ahloo)

Oleh sebab itu, saat ini masih akan dikaji kembali, apakah hal yang membahayakan itu berasal dari klaksonnya atau kegiatan anak-anak yang meminta supir menyalakan klakson itu. Menanggapi hal ini, bagaimana menurut Anda? Silahkan sampaikan komentar di kolom yang tersedia.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY