Gaikindo Inginkan Pajak untuk Mobil 4×4 Turun 10%

Gaikindo Inginkan Pajak untuk Mobil 4×4 Turun 10%

230
0
BERBAGI
(foto : Surefleet)

Selama ini masuknya mobil ‘mahal’ di Indonesia selalu dikenai pajak barang mewah atau Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), jadi tidak heran jika mobil-mobil super premium yang masuk ke Indonesia harganya pasti semakin fantastis. Pengenaan pajak barang mewah ini juga mencakup segmen mobil berpenggerak 4×4. Gaikindo sebagai wadah para produsen otomotif di Indonesia menyayangkan hal ini, karena melihat mobil berpenggerak 4×4 ini sebenarnya banyak dipakai di daerah pedalaman Indonesia, dan sangat diperlukan di sana. “Pemerintah menetapkan mobil 4×4 sebagai barang mewah. Padahal kendaraan jenis ini banyak digunakan di daerah-daerah pelosok,” ujar Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara.

Menanggapi hal ini, Gaikindo mengusulkan untul menurunkan tarif PPnBM menjadi 10%, seperti yang dinyatakan oleh Kukuh, “Akan kami ajukan untuk turun menjadi 10%.” Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2014 tentang Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang Dikenai PPnBM, tarif pajak untuk mobil 4×4 berkisaran 20%-125%. Sebelumnya, Gaikindo pernah meminta pemerintah untuk menurunkan PPnBM sedan menjadi 10 persen. Rencananya, usulan penurunan pajak untuk sedan dan 4×4 akan diajukan bersamaan. Gaikindo ingin pemerintah bisa mencontoh kebijakan pajak di negara-negara lain, yakni membagi PPnBM untuk mobil menjadi hanya dua jenis saja, yaitu kendaraan penumpang dan kendaraan komersial.

Mendukung Perindustrian

Gaikindo menggandeng akademisi Universitas Indonesia dalam mengkaji penurunan tarif PPnBM dua jenis kendaraan itu. Gaikindo mengaku sudah mencoba menyuarakan klasifikasi jenis pajak kendaraan ini sejak tahun 1995 tetapi hingga saat ini belum ada tanggapan dari pemerintah.

Jalanan di pedalaman Indonesia seperti ini tentu saja tidak bisa dilalui menggunakan kendaraan biasa., harus dengan kendaraan spesial. (foto : Kompas)

Usul ini sebenarnya didukung oleh Kementerian Perindustrian yang diwakili oleh Direktur Jenderal Industri Logam Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika I Gusti Putu Suryawirawan. Beliau menilai, seiring perkembangan teknologi kendaraan bermotor, tarif PPnBM seharusnya dikaji ulang. “Kami cenderung menggunakan kriteria daya atau output dan harga pabrik atau pelabuhan impor sebagai kriteria pengenaan PPnBM,” ujar Suryawirawan. Sementara ini, Kementerian Perindustrian masih menunggu hasil kajian yang dilakukan oleh Gaikindo. Kementrian akan segera mengajukan permohonan keringanan pajak itu kepada Kementrian Keuangan dan Kementrian Perhubungan jika kajian yang dilakukan oleh Gaikindo sudah tuntas.

Mobil berpenggerak 4×4 tidak hanya digunakan untuk mendukung industri, tetapi juga untuk angkutan penting di pelosok Indonesia, seperti ambulan ini. (foto : KalbarFrkp)

Dari kacamata APM, General Manager Marketing Strategy PT Nissan Motor Indonesia, Budi Nur Mukmin menuturkan bahwa penurunan PPnBM mobil 4×4 akan menekan harga jual sehingga penjualan meningkat. Berdasarkan data Gaikindo, total penjualan mobil 4×4 seluruh segmen sepanjang Januari–November 2016 mencapai 4.509 unit atau naik 12,55% dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak 4.006 unit. “Mobil 4×4 itu sebagian besar kendaraan komersial yang sangat sensitif terhadap kebijakan makro. Kalau bisa turun tentu pasarnya akan berkembang,” tutup Budi.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY