Banyak Pabrik Tutup, Indonesia Punya Banyak Peluang Ekspor Mobil Ke Australia

Banyak Pabrik Tutup, Indonesia Punya Banyak Peluang Ekspor Mobil Ke Australia

453
0
BERBAGI
Ford Falcon terakhir diproduksi tanggal 7 Oktober 2016 (foto : twitter @FordAustralia)

Industri otomotif Australia beberapa bulan belakangan ini mengalami beberapa gangguan akibat tutupnya beberapa pabrik di Australia milik produsen otomotif kelas dunia. Dengan perginya sejumlah pabrikan otomotif dari Australia, peluang pun terbuka lebar bagi produsen kendaraan di dalam negeri untuk meningkatkan wilayah ekspornya. Tapi jangan keburu senang, kesempatan ini bukan tanpa hambatan, karena selain belum adanya perjanjian perdagangan di antara kedua negara, kualitas kendaraan di Australia juga berbeda dengan produk yang dihasilkan oleh Indonesia.

Selain masalah itu, model yang paling dominan digemari di Australia adalah model sedan dan small SUV, sedangkan pabrik di Indonesia hingga saat ini baru mampu memproduksi MPV untuk skala massal. Seperti keterangan yang diberikan oleh Wakil Presiden PT Toyota Astra Motor, Warih Andang Tjahjono. Pihak Gaikindo yang diwakili oleh Kukuh Kumara juga menyatakan hal yang sama, Indonesia bisa memanfaatkan pasar otomotif Australia yang saat ini sedang kosong, tetapi beliau juga menambahkan, “Namun kita belum bisa memenuhi pasar itu karena demandnya berbeda, disini produksi MPV disana membutuhkan sedan.”

3 Pabrik Besar Tutup

Sekedar mengingatkan, peluang besar yang ada di Australia ini disebabkan oleh tutupnya tiga pabrik besar di sana, yaitu Ford Motor Co, General Motors Co, bahkan kampiun otomotif asal Jepang, Toyota Motor Corp juga akan berhenti produksi di Australi pada tahun ini. Toyota Indonesia sendiri belum memastikan apakah akan mengekspor produknya ke negara tersebut. Sebab, saat ini perjanjian Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) masih dalam tahap pembahasan. Selain pabrikan mobil internasional, bahkan pabrikan mobil asal Australia sendiri sudah menyerah dan berencana untuk berhenti beroperasi di akhir tahun 2017 ini.

bahkan merk yang pernah menjadi kebanggaan warga Australia pun akhirnya memutuskan untuk berhenti produksi (sumber : Pinterest)

Kukuh memang sangat berharap bahwa pabrik-pabrik di Indonesia bisa meningkatkan kuantitas ekspor, karena tahun lalu nilai ekspor mobil dari Indonesia malah menurun. “Ekspor walaupun kita harapkan naik 7 persen walaupun cukup optimis karena negara-negara tujuan ekspor menetapkan aturan baru, kita perlu menyesuaikan hal itu,” kata Kukuh. Diluar itu semua, hal yang tetap harus dipahami adalah merek-merek yang sudah tidak berproduksi di Australia ini tetap akan melayani para pengguna mobil di sana dengan mengimpor mobil-mobil baru dari luar Australia.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY