Produsen Ban Eco Tires Ingin Dapat Insentif dari Pemerintah juga Seperti LCGC

Produsen Ban Eco Tires Ingin Dapat Insentif dari Pemerintah juga Seperti LCGC

355
0
BERBAGI
(Sumber : lanesschoolofdriving)

Walau belum ada regulasi resmi dari pemerintah Indonesia mengenai eco tires atau ban ramah lingkungan, tetapi para produsen ban saat ini sudah mulai berlomba-lomba untuk menciptakan ban ramah lingkungan. Namun timbul rasa khawatir dari para produsen ban, mereka khawatir perkembangan ban ramah lingkungan tidak akan sekencang di negara-negara maju, karena tidak adanya dukungan dari pemerintah Indonesia.

Yang terjadi saat ini, banyak produsen yang mengklaim bahwa ban produksi mereka adalah ban ramah lingkungan, namun karena tidak adanya standarisasi dari pemerintah, maka pada akhirnya istilah eco tires di Indonesia ini jadi tidak jelas. ”Bisa saja sebuah merek mengklaim, tapi tidak ada standardisasi. Harapannya, kesadaran masyarakat akan kebutuhan ban ramah lingkungan makin tinggi, polusi dan biaya pemerintah merehabilitasi lingkungan berkurang. Masyarakat juga lebih sehat,” kata Hendra Himawan, GM Sales Planning dan Administrasion PT Sumi Rubber Indonesia (Surindo).

Produsen Ban Butuh Perhatian Pemerintah

Hendra juga mengatakan bahwa kontribusi eco tires di Indonesia belum semaksimal negara-negara maju. Standardisasi memang diperlukan, tetapi minimal perhatian khusus dari pemerintah harus sudah mulai ada di ranah aksesori kendaraan seperti ban. Jika sudah ada standardisasi, atau bahkan insentif dari pemerintah, produsen ban akan berlomba memproduksi ban ramah lingkungan. Hendra mengeluhkan, produk ramah lingkungan akan memakan sedikit lebih mahal biaya produksi karena kelas material di atas produk biasa, jadi jika pemerintah bisa memberikan insentif, akan sangat membantu para produsen.

Dunlop Enasave EC300+, ban yang diklaim sebagai eco tire hasil produksi PT Sumi Rubber Indonesia (foto : Dunlop)

Hendra pun mencontohkan LCGC, yang mendapatkan insentif dari pemerintah jika memenuhi berbagai syarat, termasuk konsumsi bahan bakar yang tembus 20 kpl, atau minimal punya 80% komponen lokal. ”Seperti itu yang kami harapkan,” tutup Hendra.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY