Tantangan Berat untuk Bos Nissan yang Baru

Tantangan Berat untuk Bos Nissan yang Baru

365
0
BERBAGI
Carlos Ghosn (kiri) dan CEO Nissan yang baru Hiroto Saikawa (kanan) (foto: Autoevolution)

Beberapa hari yang lalu sudah beredar kabar bahwa pimpinan tertinggi Nissan, Carlos Ghosn ingin mengundurkan diri untuk berkonsentrasi di aiansi Renault-Mitsubishi. Produsen mobil terbesar kedua di Jepang ini resmi merelakan hilangnya sosok arsitek yang berperan membangkitkan Nissan dari posisinya sebagai Chief Executive Officer (CEO). Sebagai pengganti, nama Hiroto Saikawa dimunculkan, di mana peralihan jabatan secara resmi akan berlaku pada 1 April 2017.

Setelah pergantian jabatan nanti, maka beban dan tantangan baru Nissan akan dilimpahkan pada Hiroto Saikawa, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil CEO Nissan. Tantangan terdekat Saikawa adalah mengurangi ketergantungan pada negara-negara Amerika dan China, kemudian mengembangkan bisnisnya terutama di negara berkembang. Nissan juga berupaya mendorong merek Datsun untuk membantu meningkatkan pangsa pasar di wilayah seperti Asia Tenggara, tapi sayangnya hingga saat ini masih terus tertinggal oleh para pesaingnya.

Bangun Pasar Baru

Rencana manajemen Nissan menutup tahun fiskal 2016 yang berakhir pada Maret 2017 memang sangat ambisius. Target peningkatan pangsa pasar dan laba operasi harus mencapai 8%. Padahal kenyataannya, dalam periode April 2016 – Desember 2016 pangsa pasar global hanya 5,9%. Selain itu, saat ini juga merupakan saat-saat genting bagi bisnis Nissan di Amerika, berkaitan dengan kebijakan Presiden Donald Trump yang memberlakukan pajak tinggi untuk kendaraan yang diproduksi di Meksiko tapi dijual di Amerika Serikat.

CEO Nissan Carlos Ghosn (kiri) dan Presiden Mitsubishi Motors Osamu Masuko (kanan) saat Nissan membeli saham Mitsubishi (foto : Nikkei)

Untuk itulah, CEO Nissan yang baru dituntut untuk tidak menjadi tidak begitu bergantung pada pasar Amerika. Salah satu cara untuk menghindari ketergantungan pasar dengan Amerika Serikat adalah dengan membuka pasar baru di negara-negara berkembang. Hal ini mungkin akan berat karena nama Nissan memang kurang populer di negara-negara berkembang, apalagi jika dibandingkan dengan Toyota dan Daihatsu. Namun mau tidak mau, inilah tantangan yang harus dihadapi oleh CEO Nissan yang baru.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY