Untuk Pengembangan Bisnis, Honda Investasikan Rp 4,8 Triliun di Indonesia!

Untuk Pengembangan Bisnis, Honda Investasikan Rp 4,8 Triliun di Indonesia!

326
0
BERBAGI
Honda Prospect Motor (HPM) merayakan produksi lokal ke-1 juta unit di pabrik II di Karawang, Jawa Barat, Senin, 27 Februari 2017 (foto: Okezone/Santo)

PT Honda Prospect Motor (HPM) pada hari Senin, 27 Februari 2017 kemarin telah sukses merayakan pencapain satu juta unit produksi mobilnya di Indonesia. Pencapaian ini berhasil diraih setelah 14 tahun sejak pertama kalinya HPM memulai produksinya di pabriknya yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Pencapain tersebut juga berkat investasi yang dilakukan oleh HPM untuk memperluas fasilitas, mulai dari pendirian pabrik kedua pada 2014, dilanjutkan dengan pabrik stamping dan pabrik crank shaft di 2016.

“Berdirinya pabrik crank shaft untuk memenuhi peraturan pemerintah terhadap mobil low cost green car (LCGC). Ini juga jadi komitmen Honda untuk memproduksi lebih banyak komponen dan SDM lokal,” ujar Presiden Director HPM Tomoki Uchida. Tidak puas dengan pencapaian itu saja, HPM juga sudah memasang target investasi jangka panjang. Total dana yang disiapkan untuk pengembangan pabrik Karawang ini mencapai Rp 4,8 triliun!

Pengembangan pada Tiga Hal Pokok Utama

HPM menyatakan, dalam rancangannya ada tiga hal yang menjadi pokok utama untuk pengembangan pabrik di Karawang. Mulai dari Engine Plant Capacity Increment pada akhir 2019 dengan target kapasitas dari 225.000 menjadi 300.000 unit per tahun, Frame Line Capacity Increment di pabrik kedua pada April 2021 dengan target dari 120.000 menjadi 180.000 unit per tahun, dan PO Injection Plant Capacity Increment pada Maret 2022.

Promo untuk merayakan produksi Honda lokal yang ke 1 juta. Promo ini hanya berlaku di Jabodetabek saja (sumber: HPM)

Jonfis Fandy, Direktur Pemasaran dan Layanan Purna Jual HPM, mengatakan untuk saat ini fokusnya lebih ke penambahan line tanpa untuk meningkatkan produksi. “Untuk proyeksi lima tahun kita naikkan dari 120.000 jadi 180.000 unit per tahun, itu hanya line saja tanpa bikin pabrik. Kita pikir mungkin Indonesia lima tahun ke depan akan naik, jadi kita punya kesempatan untuk menambah produksi,” tutup Jonfis.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY