Kerjasama Pertamina-RNI-Toyota Berhasil Sulap Rumput Gajah Menjadi Bahan Bakar

Kerjasama Pertamina-RNI-Toyota Berhasil Sulap Rumput Gajah Menjadi Bahan Bakar

373
0
BERBAGI
PT Rajawali Nasional Indonesia (sumber: rni.co.id)

Selama ini rumput gajah di Indonesia hanya tumbuh liar, dan hampir tidak ada yang melirik. Sedangkan beberapa pihak yang membutuhkan dan menanamnya pun hanya memanfaatkannya untuk kebutuhan pakan ternak. Untungnya, saat ini PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) bersama PT Pertamina (Persero) dan Toyota Motor Corporation berhasil melirik potensi rumput gajah. Ketiga perusahaan ini kemudian bermitra untuk mengembangkan rumput gajah sebagai bahan baku biofuel atau biomass napier grass.

Kerja sama ini sudah dijalin sejak tahun 2015, dan saat ini telah memasuki tahap riset yang ditandai dengan pelaksanaan panen rumput gajah siklus kedua di Majalengka, Jawa Barat. Direktur Pengembangan Usaha dan Investasi PT RNI, Agung P. Murdanoto mengatakan bahwa kerja sama itu merupakan upaya menghadapi pergeseran tren konsumsi energi dunia ke depan menuju energi terbarukan dengan bersumber pada pemanfaatan biomass salah satunya.

Sumber Energi Alternatif

Agung mengatakan bahwa kerjasama ini menjadi sangat potensial, mengingat ramalan yang dibuat oleh para pengamat yang memprediksi cadangan energi fosil dunia, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam akan habis pada 2050. “Kami akan lihat hasilnya setelah panen siklus ketiga di bulan Juni 2017. Sejauh ini, dibanding tanaman lain, produktivitas dan cara budidaya rumput gajah adalah yang paling low cost,” kata Agung. Lebih lanjut, Agung mengatakan prioritas kerja sama tersebut adalah sinergi potensi masing-masing pihak. PT RNI memiliki lahan perkebunan dan pengalaman dalam budidaya tanaman yang didukung oleh Puslitagro di Majalengka. Sementara itu, Pertamina sebagai BUMN produsen dan distributor bahan bakar terbesar se-Indonesia memiliki kompetensi dan jaringan distribusi yang sangat luas. Begitu juga dengan Toyota Motor Corporation yang memiliki fasilitas teknologi tinggi.

Rumput gajah selama ini hanya tumbuh liar dan dimanfaatkan untuk pakan ternak saja (foto: Pertanian)

Adapun target yang ingin dicapai melalui kerja sama adalah memproduksi second generation biofuel yang betul-betul bersumber dari bahan baku nonpangan atau limbah. “Untuk first generation biofuel sendiri telah banyak dikembangkan. Sayangnya, seringkali menemui hambatan bahan baku karena bersumber dari bahan-bahan nabati yang masih bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan lainnya. Second generation biofuel dapat menghindari pertentangan antara food dan fuel,” jelas Agung. Agung menerangkan pemilihan rumput gajah sebagai komoditas dalam kerja sama itu tidak terlepas dari rendemen etanol yang tinggi sehingga cocok digunakan sebagai salah satu bahan pembuat biofuel. Selain itu, produktivitasnya yang tinggi membuat rumput gajah dapat dipanen sampai tiga kali dalam setahun.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY