Penjualan Kendaraan Niaga Ringan belum Membaik, Masih Menunggu Industri Pertambangan dan Perkebunan

Penjualan Kendaraan Niaga Ringan belum Membaik, Masih Menunggu Industri Pertambangan dan Perkebunan

299
0
BERBAGI
Tata Xenon saat diuji di track off-road di Jeep Station Indonesia, Gadok, Bogor, Jawa Barat, Selasa, 15 Maret 2017. (foto: Kompas)

Penjualan kendaraan niaga ringan jenis pikap baik single maupun double cabin beberapa tahun belakangan ini memang kurang bergairah. Faktor utama penyebab penurunan penjualan ini adalah karena menurunnya perekonomian di industri tambang dan perkebunan. Ketidakpastian yang masih mendera sektor pertambangan dan perkebunan masih jadi faktor penentu utama, karena sektor pertambangan dan perkebunan masih merupakan segmen konsumen terbesar kendaraan niaga.

“Harus diakui kami masih bergantung ke dua sektor itu,” ujar Marketing Manager PT Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI), Wilda Bachtiar. “Meski harga komoditas sudah membaik sejak akhir tahun lalu, tapi pengusaha belum berani investasi besar, karena menunggu harga hasil tambang dan kebun benar-benar stabil,” tambahnya. Walau begitu, Tata Motors berani untuk mencoba mengambil pertaruhan dengan memasarkan produk baru Xenon XT mulai awal Januari 2017. Produk pikap kabin ganda yang masih diimpor secara utuh dari India itu ditujukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan saat pertambangan dan perkebunan membaik.

Pulih di Pertengahan Tahun

Para agen pemegang merek lain yang juga memiliki produk niaga ringan seperti PT Nissan Motor Indonesia (NMI) malah memprediksi penjualan kendaraan niaga ringan, khususnya model pikap dan pikap kabin ganda akan menggeliat pada paruh kedua tahun ini. Pihak Nissan juga menyatakan bahwa akan berencana menjual produk Navara yang lebih murah untuk kebutuhan usaha, karena selama ini Navara lebih disukai oleh konsumen perorangan karena fiturnya yang mewah dan lengkap.

Nissan dan Mitsubishi akan kembangkan pick up khusus pasar ASEAN (Foto: contracthireandleasing)

Dalam jangka panjang, Nissan bersama perusahaan aliansinya, Mitsubishi, juga dikabarkan akan berencana mengembangkan produksi pikap di Asia Tenggara karena potensi pasar yang masih tinggi. Rencana ini menurut Chief Operating Officer Mitsubishi Motor Corp, Trevor Mann, dilakukan untuk menghemat biaya produksi. “Sekaligus menjadi platform untuk produk pikap Mitsubishi dan Nissan di masa depan,” ujarnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY