Review Chevrolet Trailblazer LTZ: SUV Paling ‘Masuk Akal’?

888
0
BERBAGI

Beberapa waktu lalu, General Motors Indonesia meluncurkan tiga model mobil baru sekaligus: Chevrolet Spark, Chevrolet Trax dan Chevrolet Trailblazer. Nama yang disebutkan terakhir cukup mencuri perhatian, terutama karena menjadi salah satu mobil Chevrolet yang diklaim punya banyak poin lebih jika dibandingkan SUV milik kompetitor lain.

Mobil yang bersaudara dengan Isuzu MU-X ini berada di segmen yang sama dengan Mitsubishi Pajero Sport, Toyota Fortuner, Isuzu MU-X dan Ford Everest. Untuk menghadapi dominasi pemain lain di segmen ini, Trailblazer konon menawarkan sejumlah hal menarik yang bisa membuat konsumen berpaling kepada dirinya. Benarkah demikian?

Eksterior

Bicara soal desain eksterior, Chevrolet Trailblazer bisa dibilang tidak seagresif kompetitor lainnya macam Pajero Sport atau Fortuner yang menawarkan desain dinamis. Desain Trailblazer cenderung ‘gitu-gitu aja’, walaupun memang terlihat gagah. Melihat bagian muka mobil, kita akan menjumpai adanya lampu utama yang menggunakan halogen dan tidak ada projector lens. Lucu sebenarnya, mengingat Trailblazer sebelum ini sudah dibekali projector. Setidaknya pengatur ketinggian sorot lampu dan LED DRL tersedia di sini.

Pindah ke samping, velg yang digunakan berukuran 18 inci dengan profil ban berukuran 265/60 R18. Pada setiap roda sudah dilengkapi rem cakram yang ditunjang dengan sistem pengereman ABS+EBD+BA. Ground Clearance mobil ini mencapai 221 mm dan tersedia side step yang memudahkan penumpang untuk naik ke kabin atau sekedarmelongok ke atapnya yang mulus alias tanpa sun roof. Spion yang digunakan telah dibekali fitur blind spot monitoring dan kaca jendela Trailblazer mempunyai fitur movable glass system. Dengan fitur ini, kaca jendela bagian depan akan otomatis turun sekitar 5-10 cm saat pintu di buka. Saat sudah ditutup, maka kaca akan otomatis naik lagi. Fitur yang biasa ada di mobil coupe ataupun jenis frameless ini berguna untuk mengurangi tekanan di dalam kabin sehingga suara pintu yang ditutup tidak terlalu mengganggu.

Di bagian belakang, desainnya mungkin terasa amat Amerika walaupun dengan taste yang biasa-biasa saja. Untungnya, lampu belakang dilengkapi LED dan ada kamera mundur yang tersembunyi di bawah garnish crome di pintu bagasi. Kamera mundur ini amat membantu, karena memberikan simulasi garis yang akan ikut berbelok mengikuti arah kita saat mundur. Oh ya, kalau Anda mencari ban cadangan dari mobil ini, maka letaknya ada di bawah mobil, bukan di simpan di lantai bagasi seperti kebanyakan mobil. Kalau kita buka pintu bagasi, terasa kalau mobil ini tidak dilengkapi power back door seperti Fortuner. Tapi tak masalah. Jika bagasi di buka, kita akan menjumpai ruang yang lumayan lega. Jikakurang, kursi penumpang di row ketiga bisa kita lipat turun dengan konfigurasi 50:50 dan rata lantai. Jika Anda ingin mencari barang di bagasi saat malam hari atau kondisi cahaya kurang, tenang saja, karena di bagian bagasi tersedia lampu yang akan memudahkan Anda mencari barang.

Interior

Saat masuk ke kabinnya, kami merasa desain dasbor yang digunakan Trailblazer hanya bisa digambarkan dalam satu kata: tangguh. Hal ini karena memang desain dasbornya tidak bisa dibilang mewah atau jelek. Kami menyukai kursinya yang mempunyai pengaturan lengkap, mulai dari height adjuster, sliding dan reclining. Ini bahkan ada juga di kursi penumpang depan. Bedanya, kursi pengemudi sistemnya elektrik, sedangkan kursi penumpang depan masih manual.

Melihat lingkar kemudinya, tersedia sejumlah pengaturan, mulai dari audio switch control hingga pengaturan cruise control dan pengaturan front collision alert. Fitur terakhir ini berfungsi untuk memperingatkan pengemudi jika mobil sudah terlalu dekat dengan mobil di depannya. Mobil akan memberikan peringatan berupa bunyi dan cahaya yang berpendar di kaca depan pengemudi.

Head unit yang digunakan pada Trailblazer mempunyai konektivitas yang cukup lengkap, karena bisa mengoperasikan Android Auto maupun Apple CarPlay. Jangan lupakan juga adanya valet mode yang bisa Anda pergunakan untuk mengunci sistem head unit mobil agar tidak bisa dioperasikan orang yang tidak mengetahui password yang Anda gunakan. Turun ke bawah, kita akan menjumpai tombol-tombol pengaturan AC yang lengkap. Meskipun terlihat menggunakan model kenob biasa, namun langsung ketahuan bahwa itu adalah model digital yang angka indikatornya tertera di kenob-kenob tersebut. Turun ke bawah lagi, ada sejumlah tombol pengaturan fitur yang cukup lengkap. Ada lane keeping assist, stability control, hazard, hill descent control dan sensor parkir. Meski fiturnya cukup lengkap, mobil ini hanya memiliki tiga buah kantung udara yang terletak di bagian depan dan kaki pengemudi. Mengecewakan, mengingat mobil Chevrolet lain yang kelasnya di bawah Trailblazer saja sudah dilengkapi kantung udara yang lebih lengkap.

Pindah ke bangku kedua, kami masih merasa lapang dan nyaman duduk di situ. Selain ada cup holder dan arm rest, kita juga akan mendapati pengaturan ventilasi AC yang mirip dengan Chevrolet Spin. Ada juga power outlet yang terletak di konsol tengah bagian bawah. Pindah ke bangku ketiga, rasanya kami tidak pernah bisa mendapati kenyamanan maksimal di baris ketiga. Selain ruang gerak jadi terbatas, nampaknya memang lebih cocok untuk anak-anak atau yang postur tubuhnya kecil. Pengaturan baris kursi yang bergaya theater style membuat posisi penumpang di bagian belakang lebih tinggi dari penumpang di depannya. Ini tentu memudahkan pandangan mata dari penumpang belakang yang ingin tetap mendapatkan akses pemandangan dari kaca depan.

Impresi Berkendara

Trailblazer dibekali mesin Duramax Diesel 2.500 cc bertenaga 180 PS dan torsi 240 Nm. Ini tentu berbeda tipis dengan Pajero Sport yang menggunakan mesin 2.400 cc bertenaga 181 PS dan torsi 230 Nm. Saat dicoba untuk melakukan akselerasi, tenaganya memang cukup terasa, walaupun memang ada sedikit lag saat pertama. Transmisi yang digunakan adalah otomatis 6-percepatan. Torque converter, bukan CVT. Kemampuan minum biosolar (B20) juga menjadi daya tarik tersendiri di saat kompetitornya mewajibkan Pertamina Dex.

Sebagai sebuah SUV, rasanya wajar jika mobil ini memiliki body roll yang cukup besar. Kami bahkan sempat merasa mual saat mengendarai mobil ini di jalan yang berkelok-kelok dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sebenarnya menarik untuk mencoba mobil ini di area berlumpur ataupun jalan yang rusak. Namun mengingat tidak adanya opsi penggerak 4×4 membuat kami mengurungkan niat. Bahkan beberapa kali mobil sempat terjebak di tanah yang lunak maupun jalanan berbatu yang licin saat kami uji coba. Meski begitu, mobil ini tetap memberikan banyak hal menarik jika dibanding kompetitornya, apalagi harga yang ditawarkan juga cukup ‘murah’, yakni Rp 455 juta untuk tipe tertinggi. Ini membuat kompetitor Jepangnya terasa overprice dan kalah fitur. Selama di kota Anda ada layanan purnajual Chevrolet yang mumpuni, maka Trailblazer bisa menjadi salah satu alternatif SUV yang pastinya layak dipertimbangkan.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY