Distribusi Mobil Mewah Terhambat, Mengakibatkan Penjualan Kurang Cemerlang

Distribusi Mobil Mewah Terhambat, Mengakibatkan Penjualan Kurang Cemerlang

345
0
BERBAGI
(Foto: Ototaiment)

Di awal tahun 2017 ini, penjualan mobil kelas premium yang awalnya diramalkan akan cemerlang nyatanya tidak mencatat adanya penjualan yang sangat menggembirakan. hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, selain karena adanya hambatan dalam hal distribusi, konsumen kelas atas dinilai masih belum percaya diri melakukan pembelian kendaraan baru. Seperti yang terjadi pada Lexus, distribusi merek premium dari Toyota Motor Corp ini terhambat karena faktor produksi. General Manager Lexus Indonesia Adrian Tirtadjaja mengatakan perusahaan kehabisan stok sejak akhir tahun lalu, dan saat ini masih menunggu distribusi produk dari negara prinsipal.

Pada Februari lalu, total penjualan ke dealer (wholesale) Lexus sebanyak 90 unit, tidak begitu berbeda dengan capaian pada bulan yang sama tahun 2016 lalu, yakni sebanyak 92 unit. Produk yang menjadi tumpuan penjualan pada bulan lalu adalah Rxt200, yang terjual 57 unit. Adrian menambahkan, pada dasarnya permintaan atau pemesanan yang dilakukan konsumen sangat tinggi sejak awal tahun ini. Adapun produk yang menjadi sasaran konsumen adalah segmen SUV. “Antrean konsumen yang memesan produk kami sekitar 200 orang. Model yang paling laris adalah RX, LX, dan NX,” ujar Andrian.

Jaguar – Land Rover Tidak Laku

Dari delapan merek mobil premium yang tercatat sebagai anggota Gaikindo, hanya tiga di antaranya yang berhasil mencatatkan kinerja positif, yaitu Mercedes-Benz, Audi, dan Mini, sedangkan penurunan penjualan dialami BMW dan Lexus. Sementara itu, merek yang tidak mencatatkan penjualan pada bulan lalu adalah perusahaan asal Inggris, yakni Jaguar dan Land Rover, serta merek mewah keluaran PT Nissan Motor Indonesia, Infiniti.

MINI Cabrio saat diluncurkan di event GIIAS 2016. (foto : dokumentasi MINI Indonesia)

Joe Surya, Presiden Direktur PT Maxindo International Nusantara Indah, distributor mobil Mini di Indonesia, menilai kondisi pasar premium yang masih stagnan merupakan dampak dari belum menguatnya kepercayaan diri masyarakat terhadap situasi ekonomi. Meskipun penjualan Mini terbilang positif, hal itu tidak sesuai dengan harapan perusahaan, terutama setelah pemerintah mengimplementasikan program tax amnesty. “Stagnasi pasar menurut kami lebih disebabkan oleh tax amnesty yang belum sepenuhnya berdampak, dan programnya masih akan berakhir pada bulan ini,”kata Andrian.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY