Review Chevrolet Spark LTZ 2017: City Car yang Naik Kelas

1035
0
BERBAGI

Beberapa tahun lalu, General Motors Indonesia (GMI) sempat menjual Chevrolet Spark. Entah mengapa, mobil yang bermain di segmen city car ini akhirnya dihentikan penjualannya pada kisaran tahun 2013 – 2014. Beberapa kalangan menilai penyebab GMI menghentikan penjualan Spark karena kalah saing dengan mobil jenis LCGC (Low Cost Green Car) yang kala itu baru mulai lahir dan langsung menjadi primadona baru.

Seolah tidak mau kalah begitu saja, akhirnya GMI kembali menghadirkan Spark ke Indonesia, tentu saja dengan model terkini yang lebih segar. Secara global, mobil ini merupakan generasi keempat dan berkode M400. Untuk menghadapi persaingan, Spark kini juga disebut mengejar kelas yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Eksterior

Secara desain, mobil ini mungkin tidak menawarkan sesuatu yang baru untuk segmen city car. Maksudnya, desain yang ditawarkan tidak jauh berbeda dari para kompetitor lainnya. Sebagai sebuah Chevrolet, adanya bowtie yang menjadi lambang perusahaan sudah menjadi kewajiban. Uniknya, penempatan bowtie tersebut justru di grille atasnya, bukan di bagian tengah yang memisahkan kedua port grille seperti mobil Chevrolet lain pada umumnya. Lampu yang digunakan sudah proyektor dan mendapatkan DRL dengan desain yang cantik. Lampu kabut tersedia dan dibingkai dengan aksen krom. Secara keseluruhan, aksen krom di mobil ini tidak terkesan berlebihan.

Pindah ke samping, kaki-kaki mobil ni dilengkapi dengan ban Continental ContiEcoContact berprofil 165/65/R14. Sudah tersedia sistem pengereman dengan ABS+EBD untuk mobil ini, termasuk dengan rem cakram untuk roda bagian depan, sedangkan roda belakang masih tromol. Spion yang digunakan belum dilengkapi turning signal dan pintu bagian belakang memiliki door handle yang terletak dekat pilar C layaknya Nissan Juke ataupun Honda HR-V, walaupun Spark memang lebih dulu menggunakannya.

Di bagian belakang, lampu yang digunakan belum menggunakan LED dan kita tidak akan menjumpai adanya sensor parkir di mobil ini. Tertera emblem LTZ yang menjadi satu-satunya varian Spark di Indonesia. Saat membuka bagasinya, cukup enteng karena tuasnya elektrik. Kompartemen bagasi pun cukup lapang untuk di kelasnya. Jika kurang, kita bisa melipat bangku baris kedua 60:40. Tidak rata lantai memang, bahkan untuk mendapatkan pelipatan yang sempurna, kita harus melipat joknya dahulu. Sedikit merepotkan. Perangkat dongkran dan ban cadangan temporary tersedia di bawah lantai bagasi mobil ini.

Interior

Masuk ke dalam kabin Spark, kita akan menjumpai tata letak yang amat khas. Pengaturan ketinggian sorot lampu dan MID ada di bagian kanan sisi pengemudi. Uniknya, ada tombol stability control di sini. Sebagai mobil yang dijual dengan harga nyaris Rp 200 juta, hanya Spark dan Proton Iriz saja di Indonesia yang telah memiliki fitur ini. Lingkar kemudinya cukup unik, karena peletakan tombol fungsi audio berada di sebelah kanan, tak seperti kompetitor lain. Demikian juga tuas wiper dan sign yang letaknya terbalik layaknya mobil lansiran Amerika atau Eropa pada umumnya. Pengaturan lingkar kemudi hanya bisa naik-turun saja alias tilt steering, belum telescopic.

Mobil ini dilengkapi dengan head unit MyLink dengan pengaturan yang terbilang lengkap, termasuk dengan adanya Apple CarPlay dan Android Auto. Kami menyukai tampilan aksen piano black yang membingkai head unit ini. Sistem pendingin udara belum digital, namun pengaturannya cukup lengkap. Turun ke bawah, kita akan menjumpai adanya soket power outlet dan port USB – AUX.

Material jok dibalut bahan fabric serta memiliki pengaturan yang lengkap untuk jok pengemudi, mulai dari pengatur ketinggian, sliding dan reclining. Sementara di bangku baris kedua, posisi duduk masih terbilang nyaman alias tidak terlalu sempit, begitu pula untuk ruang kepala yang masih lega. Meskipun sudah dilengkapi seatbelt dan head rest untuk masing-masing kursi di baris kedua, namun kita tidak akan menjumpai adanya cup holder maupun arm rest yang bisa di tarik dari kursi tengah baris kedua. Sayang sekali pada baris kedua kita tidak akan menjumpai adanya seat back pocket maupun side pocket door untuk menyimpan barang.

Impresi Berkendara

Tidak seperti pendahulunya, Spark terbaru kini dibekali mesin berkapasitas 1.4 L dengan tenaga 98 PS dan torsi 124 Nm. Ini jelas jauh berbeda dengan sebelumnya yang bermesin 1.2 L. Atas dasar inilah kami merasa Spark seakan ingin naik kelas, dari semula berada di segmen mobil perkotaan, kini naik ke teritori subcompact hatchback yang di huni oleh Nissan March 1.5, Honda Jazz, Toyota Yaris dan sebagainya. Meski begitu, besaran tenaganya memang terbilang tanggung untuk kelas tersebut. Kami rasa mobil ini lebih cocok untuk bertarung dengan Daihatsu Sirion, Proton Iriz maupun Mitsubishi Mirage. Uniknya, mobil ini dijual seharga Rp 196 juta on the road Jakarta, yang artinya lebih murah (dan lebih lengkap fiturnya) daripada Mitsubishi Mirage yang mencapai Rp 197 jutaan dan bermesin 1.3 L.

Saat mulai menginjak pedal gas, kami merasa tidak ada lag berarti dari mobil ini. Responnya bagus, tenaganya terasa, dan perpindahan CVT-nya halus. Maksudnya, tidak lemot seperti beberapa CVT pada umumnya dan tidak ada jeda panjang yang berarti. Handling mobil ini juga menyenangkan. Chevrolet nampaknya mengarahkan settingan suspensi mobil-mobil terkininya di pertengahan. Artinya, tidak terlalu kaku namun juga tidak terlalu empuk. Kekedapan kabin mobil ini cukup baik, suara bising jalanan bisa teredam dengan baik. Dalam pengujian kami, mobil ini mengkonsumsi BBM 14 km per liternya. Masih rasional untuk sebuah mobil yang digunakan sehari-hari di perkotaan yang padat bukan?

Kesimpulan

Jika Anda tengah mempertimbangkan untuk membeli sebuah mobil perkotaan maupun subcompact hatchback, Chevrolet Spark bisa jadi pilihan. Selain tenaganya mumpuni, fitur keselamatannya cukup lengkap (ABS+EBD, Dual SRS Airbag, Stability Control, Hill Start Assist), harganya pun menarik.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY