Agar Mobil Hybrid Sukses, Pemerintah Indonesia Harus Beri Dukungan

Agar Mobil Hybrid Sukses, Pemerintah Indonesia Harus Beri Dukungan

393
0
BERBAGI
(foto: autoblog)

Berkaitan dengan adanya rencana pemerintah untuk menghapus program LCGC dan menggantinya dengan program mobil rendah emisi, Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, Yohannes Nangoi, mengatakan pemerintah Indonesia sebaiknya meniru Jepang. Menurutnya, di Jepang konsumen mendapatkan keringanan fiskal sangat besar ketika ingin membeli mobil hybrid, “Sehingga harga mobilnya sangat murah bahkan setara mobil biasa.” Insentif tersebut yang akhirnya bisa mendorong penjualan kendaraan hybrid di Jepang cukup tinggi.

Awal Maret lalu, pemerintah menerbitkan Perpres No. 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional. Dalam lampiran beleid tersebut, disebutkan bahwa pemerintah akan mengembangkan kendaraan bertenaga listrik atau hibrida pada 2025 sebanyak 2.200 unit untuk roda empat dan 2,1 juta untuk kendaraan roda dua. Sebagai instrumen pendukung, pemerintah juga menyiapkan kebijakan pemanfaatan kendaraan bermotor berbahan bakar bensin dan etanol (flexi-fuel engine) dan menyusun kebijakan insentif fiskal untuk produksi mobil dan motor listrik. Pemberian insentif ini merupakan langkah pemerintah untuk memancing minat produsen dalam mengembangkan kendaraan hibrida atau listrik. Pemberian insentif juga ditujukan untuk menekan harga jual.

Produsen Masih Pesimis

Menanggapi hal ini, para produsen kendaraan bermotor masih merasa pesimis regulasi baru yang diterbitkan pemerintah mengenai pengembangan kendaraan bermesin hybrid dan listrik mampu menurunkan harga mobil yang memakai teknologi tersebut. Direktur Pemasaran PT Honda Prospect Motor (HPM), Jonfis Fandy, menilai skema insentif yang diterapkan nantinya harus mampu membuat harga jual kendaraan bermesin hibrida atau listrik bisa setara dengan produk kendaraan bermotor konvensional. “Kami masih menunggu skema yang akan diberikan pemerintah seperti apa, kalau insentifnya besar, tentu bagus bagi konsumen, karena kendaraan bermesin hibrida bisa jadi lebih murah,” kata Jonfis. “Kalau tidak, akan sulit menjual mobil dengan teknologi demikian, karena mahal,” tambahnya.

Honda CR-Z, mobil Hybrid Honda yang tidak terlalu laku di Indonesia. (foto: Dapurpacu)

HPM merupakan salah satu agen pemegang merek kendaraan bermotor yang sudah memasarkan produk kendaraan hybrid di Indonesia, yakni Honda CR-Z yang dibanderol seharga Rp 535 jutaan. Tahun lalu, mobil ini berhasil terjual sebanyak 135 unit, jumlah yang sangat rendah jika dibandingkan dengan produk sedan konvensional mereka, seperti Honda Civic yang dibanderol seharga Rp 386 jutaan, dan mampu terjual sebanyak 1.681 unit. Salah satu aturan turunan dari perpres tersebut adalah akan adanya skema low cost emission vehicle (LCEV) yang saat ini regulasinya masih disusun oleh pemerintah Indonesia.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY