Pertumbuhan Pasar Mobil Premium di Indonesia Belum Dirasakan oleh Jaguar-Land Rover

Pertumbuhan Pasar Mobil Premium di Indonesia Belum Dirasakan oleh Jaguar-Land Rover

335
0
BERBAGI
Jaguar Indonesia baru saja meluncurkan produk terbarunya, Jaguar XF 2.0 Blackjack di Showroom Jaguar Land Rover, Jakarta Selatan (foto: Tribunnews)

Beberapa sat yang lalu, pihak Mercedes-Benz Indonesia sempat membuat pernyataan bahwa pertumbuhan penjualan mobil premium di Indonesia tahun ini mengalami perkembangan yang menggembirakan. Sayangnya, hal ini tidak dirasakan oleh semua merk mobil premium yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah agen pemegang merek (APM) Jaguar Land Rover di Indonesia, PT Wahana Auto Ekamarga (WAE). Pihak WAE mengungkapkan, segmen premium di pasar otomotif Indonesia memang mengalami pertumbuhan, namun hal itu hanya dirasakan oleh mobil-mobil yang memiliki rentang harga di bawah Rp 1 miliar saja. Sedangkan untuk mobil di segmen premium yang rentang harganya Rp 1,5 miliar atau lebih, pertumbuhan pasarnya cenderung masih sangat lambat, jika tidak mau dibilang stagnan.

Hal itu disampaikan COO PT Wahana Auto Ekamarga, Roland Staehler, “Yang kami lihat pertumbuhan segmen premium terjadi di subsegmen harga Rp 1 miliar ke bawah, itu tumbuh cukup baik,” kata Staehler. “Namun di atas Rp 1,5 miliar, di mana kami bermain, pasarnya masih sangat lambat,” ujarnya menambahkan. Staehler meyakini kondisi tersebut juga dirasakan oleh sebagian besar merk lain yang ambil bagian di segmen premium pasar otomotif Indonesia.

Masih Dikuasai oleh BMW, Mercedes-Benz, dan Lexus

Staehler juga menambahkan bahwa segmen premium di Indonesia selama ini masih dikuasai oleh tiga merk besar asal Eropa dan Jepang, yakni BMW, Mercedes Benz dan Lexus yang meraup lebih dari 90 % aktivitas penjualan.

BMW Seri 7 Rakitan Indonesia yang menjadi jagoan BMW Group Indonesia. (foto: BMW Indonesia)

Dari segi kondisi ekonomi, Staehler menilai sektor komoditas berdampak menimbulkan optimisme masyarakat dan pengampunan pajak tak terasa dampaknya di sektor otomotif. Oleh karena itu, pihaknya lebih menunggu manfaat dari keberlangsungan pembangunan infrastruktur. “Tax Amnesty belum terasa hingga saat ini, tidak tahu ke depannya,” pungkas Staehler.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY