PT Tata Motors Distribusi Indonesia Turunkan Target Penjualan Tahun 2017

PT Tata Motors Distribusi Indonesia Turunkan Target Penjualan Tahun 2017

196
0
BERBAGI
(foto: Tata Motors)

Agen Pemegang Merek (APM) Tata Motors di Indonesia, PT Tata Motors Distribusi Indonesia (TMDI), mengoreksi target pertumbuhan penjualan mereka sepanjang tahun 2017 ke angka 15 persen. Hal ini dilakukan oleh pihak TMDI karena masih kurang kondusifnya pasar kendaraan niaga di Indonesia. “Kalau dari 2016 kami ekspektasi penjualan kurang lebih 15-20 persen. Tetapi melihat kondisi 3-4 bulan pertama 2017 sepertinya pasar kendaraan niaga masih agak berat, jadi mungkin 15 persen sudah optimal,” kata Manajer Brand Kendaraan Niaga TMDI, Wilda Bachtiar.

Menurut Wilda, pihaknya saat ini masih dalam posisi wait and see, mengingat tren penjualan kendaraan niaga cenderung melambat pada bulan-bulan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hari Raya Idul Fitri 1438 H diperkirakan jatuh pada pengujung bulan Juni 2017, yang menyebabkan pasar terkoreksi di pertengahan awal 2017. “Terlebih ini Lebaran berada di tengah tahun cenderung ke awal, semoga nanti setelah Lebaran ada perbaikan,” kata Wilda. “Tahun lalu juga bagusnya mendekati akhir tahun,” ujarnya menambahkan. Bahkan, jika performa semester dua 2017 bisa melampaui periode yang sama tahun lalu, bukan tidak mungkin target awal Tata Motors untuk bertumbuh 20 persen bisa tercapai, aku Wilda.

Pasar Pick-Up Masih Buruk

Jika dilihat dari segmen per segmen, pasar kendaraan niaga terutama pick-up yang menjadi salah satu andalan Tata Motors di Indonesia masih belum mengalami perbaikan sebagaimana dirasakan di segmen truk. Pasalnya, hal itu berlaku keterbalikan dari dampak kondisi makro ekonomi terhadap masing-masing segmen kendaraan niaga, yang menurut Wilda berlaku kebalikan antara pick up dan truk.

Tata Super Ace HT, pick-up jagoan baru Tata Motors yang baru saja diluncurkan di Indonesia. (foto: Carvaganza)

Keadaan ini, menurut Wilda tidak lepas dari keadaan ekonomi di Indonesia saat ini yang memang sedang tidak terlalu baik. “Kalau kita cermati pasar niaga dan korelasinya dengan kondisi makro ekonomi, biasanya yang terdampak lebih awal adalah pasar kendaraan truk. Banyak pengamat menilai kondisi makro ekonomi Indonesia sudah agak membaik, sehingga truk dulu yang mengalami perbaikan nanti pick up baru mengikuti,” kata Wilda. Sebaliknya, ketika kondisi makro ekonomi Indonesia mengalami penurunan, pasar pick-up tidak terimbas langsung melambat, melainkan pasar truk dulu.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY